Balada Anak Kos
Oleh : Bagus Cakraningrat
Pagi yang cerah, waktu yang tepat untuk kembali memulai aktifitas seperti biasa. Embun pagi belum lagi mengering, tapi belum sampai semenit ku menikmati indahnya pagi itu, ibu kos sudah menggedor-gedor pintu kamar kos ku. Sepertinya, beliau mau menagih uang kos ku yang sudah menunggak tiga bulan itu. Ya, namaku Roni, seorang anak kos yang bisa dibilang hidupnya pas-pasan. Uang yang aku punya cuma pas buat makan, pas buat bayar uang sekolah dan pas buat bayar uang kos. Tapi, gara-gara kemarin, uang yang seharusnya ku pakai buat membayar kos sudah aku pakai buat beli bahan-bahan praktikum dan buku pelajaran, jadinya terpaksa deh uang kos ku menunggak tiga bulan.
“Duk…duk…. duk….. Roniii, cepat kau keluar…… kapan kau mau bayar uang kosnya…. Udah nunggak tiga bulan nih…!!!!” dengan logat bataknya yang kental sekali, dia berteriak dan menggedor-gedor pintu kos ku.
“Iya..iya.. sabar donk bu… secepatnya dech saya bayarin ntar… jangan marah-marah gitu kenapa??” kataku sambil membuka pintu.
“Sabar-sabar… kepala kau!! Selalu kau bilang ntar, ntarnya itu kapan ?? Suami dan anakku juga butuh makan, kalau kau tidak bayar mendingan kau keluar saja dari tempat kos ini !! Masih banyak orang lain yang juga butuh tempat ini dan mampu membayarnya. Mengerti kau !!!”
“Iya bu..iyaa… saya janji dech kalau uangnya sudah ada akan secepatnya saya bayar,” jawabku dengan gemetaran.
“Saya pegang omongan kau itu, kalau kau tidak bayar, lebih baik kau keluar saja,” ancamnya seraya meninggalkan tempat kos ku.
“Aduh, gimana niy. Ibu kos udah main ngancam gitu, bisa jadi gelandangan bener niy, kalau ntar aku nggak bisa bayar,” pikiranku melayang memikirkan hal itu.
---------ooooOoooo--------
Dengan langkah gontai, aku memasuki gerbang sekolah. Kejadian pagi tadi, membuat semangatku hilang hari ini.
“Hai Ron, ada apa niy, mukamu koq keliatan suntuk banget, lagi ada masalah ya ??” sapa seorang teman dekatku, Rio namanya.
Rio, adalah sahabat terbaikku, dia adalah sosok yang ramah, supel, dan bisa bergaul dengan siapa saja, tak peduli kaya atau pun miskin, walaupun dia tergolong orang terkaya di sekolah.
“Mmmm… Nggak kenapa-kenapa koq, cuma ada sedikit masalah aja, tapi nggak terlalu penting juga. Eh, PR kamu udah selesai belom, mau pinjem punya aku nggak niy ??” alihku, karena aku nggak mau Rio tau tentang masalah uang kos ku ini, karena aku tau ia pasti akan langsung menawarkan bantuan kepadaku untuk melunasi uang kos itu, dan aku tak mau hal seperti itu terjadi. Aku nggak mau merepotkan Rio, karena dia sudah terlalu baik kepadaku.
“Eh, tau aja kalau aku belum ngerjain, abis susah banget sich PRnya, boleh tu dipinjemin.. hehehe…,” tawanya, seraya mengambil buku PR ku. Dia pun langsung membawanya ke kelas. Untung, caraku mengalihkan perhatiannya itu berhasil. Aku pun segera menyusulnya ke dalam kelas.
---------ooooOoooo---------
Bel pulang sekolah pun berdentang. Seperti biasa aku pulang dengan berjalan kaki. Langkahku masih sama gontainya dengan tadi pagi, karena jujur saja aku masih memikirkan omongan ibu kos, sampai sekarang aku masih belum punya uang untuk melunasi uang kos itu. Aku takut kalau ibu kos benar-benar mengusirku dan aku akan jadi gelandangan di jalan.
Tiba-tiba sebuah mobil yang tampaknya kukenal berhenti didekatku, dan ternyata itu adalah Rio, dia menawarkanku untuk pulang bersama, “Hei Ron, pulang bareng yuk naik mobil aku, daripada kamu jalan sendirian,” ajaknya.
“Eh, nggak usah, aku udah biasa jalan sendirian koq, “tolakku, karena aku nggak mau merepotkan Rio.
“Kamu niy, kalau aku ajak pulang bareng pasti selalu nolak, sekali-kali kan nggak apa-apa aku anterin, hitung-hitung balas budi karena tadi kamu udah bantuin aku ngerjain PR. Ayolah, kali ini kamu nggak boleh nolak,” dia pun langsung menarikku masuk ke dalam mobilnya.
Dengan terpaksa aku pun masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang berbagai macam hal, tapi aku tidak terlalu menanggapinya, karena aku masih memikirkan uang kos yang masih belum sanggup untuk ku bayar.
“Hei Ron, kamu dengar nggak sich aku lagi cerita, dari tadi pagi aku perhatiin, hari ini kamu koq kelihatannya lagi lesu banget, kamu sakit ya ?? Mau aku anterin ke rumah sakit ??” tawarnya.
“Eh, nggak koq.. Aku nggak kenapa-kenapa,” jawabku.
“Ron, kalau kamu lagi ada masalah, cerita-cerita ya ke aku, aku pasti siap koq buat bantuin kamu. Ingat, selama kamu masih ada teman, jangan pernah kamu merasa sendirian,” balasnya.
Akhirnya mobil pun berhenti didepan rumah kos ku.
“Thanks ya Rio, mau mampir dulu nggak niy ??” tanyaku.
“Nggak usah dech, lain kali aja, aku masih ada kerjaan lain,” jawabnya.
“Oww… Ya udah dech, sekali lagi thanks ya…” balasku.
Mobil Rio pun berlalu meninggalkan tempat kos ku. Tak lama kemudian terdengar teriakan dari Ibu kos. “Roni.. kapan kau mau bayar uang kos kau itu…!!! Aku sudah dapat orang baru yang mau menempati tempat tinggal kau itu, dan dia mampu bayar dimuka. Aku beri waktu kau sampai besok pagi, kalau sampai besok pagi kau belum bisa bayar, lebih baik kau keluar dari tempat ini.”
---------ooooOoooo---------
Tubuhku terasa lemas mendengar perkataan Ibu kos, mana mungkin dalam waktu setengah hari, aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar lunas uang kos ku. Aku pun terbaring lesu dikamarku. Pikiranku menerawang, kalau seandainya aku benar-benar akan hidup di jalanan.
“Duh… gimana niy caranya cari uang dalam waktu sesingkat itu,” batinku.
Lalu terlintaslah dipikiranku untuk menjual Handphone satu-satunya yang aku punya, walaupun itu pasti belum bisa melunasi uang kos ku sepenuhnya. Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan segera berganti pakaian, lalu aku pun berjalan menuju counter terdekat untuk menjual handphone ku itu, dan ternyata uang yang ku dapat dari penjualan Handphone itu tidak seberapa, aku hanya mendapatkan uang sebesar Rp 275.000,00 ; sedangkan hutangku itu, sebesar Rp 650.000,00 ; tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Aku pun berjalan lagi tanpa tahu arah tujuan, tapi yang pasti aku harus bisa mendapatkan uang sore ini untuk melunasi hutangku itu.
Aku pun berencana untuk melamar pekerjaan di sebuah Rumah makan, syukur-syukur kalau bisa dapat kerjaan.
“Selamat siang pak, saya mau tanya disini ada lowongan kerja nggak ya ?? Sebagai pelayan atau tukang cuci piring juga nggak apa-apa koq pak,” ucapku.
“Maaf ya dek, disini nggak ada lowongan,” ucap kasir rumah makan itu.
Lalu, aku kembali menyusuri jalan untuk mencari pekerjaan yang bisa membantuku melunasi uang kos yang sudah menunggak 3 bulan itu. Berhentilah aku di rumah makan kedua, disini aku benar-benar berharap, agar aku bisa mendapatkan uang itu.
“Permisi pak, disini ada lowongan kerja nggak ya ?? Jadi apapun juga boleh koq,” ucapku.
“Ooww… Pas sekali, disini lagi butuh seorang tukang cuci piring, karena tukang cuci piring sebelumnya lagi sakit, kamu bisa langsung kerja hari ini,” balasnya.
“Terima kasih pak.. Tapi, kerja hari ini, saya boleh minta bayaran langsung nggak pak, soalnya hari ini saya bener-bener lagi butuh uang,” lanjutku.
“Oww, itu masalah gampang, setelah kerja nanti, kamu akan langsung saya bayar sesuai hasil pekerjaan kamu hari ini,” ucapnya.
---------ooooOoooo---------
Siang itu, aku mulai bekerja sebagai tukang cuci piring di rumah makan itu. Ternyata, piring-piring yang menumpuk banyak sekali. Aku pun dengan cepat, harus mencuci piring-piring tersebut hingga bersih. Waktu demi waktu terus berjalan seiring dengan selesainya tugas ku hari itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, rumah makan itu pun sebentar lagi akan tutup. Aku pun menemui kepala rumah makan itu.
“Terima kasih, pekerjaan kamu hari ini bagus sekali, ini uang yang saya janjikan tadi,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
“Wah, terima kasih pak, “ balasku seraya menerima amplop itu.
Aku pun izin untuk pulang, karena hari sudah malam. Ku buka amplop yang kuterima tadi, ternyata isinya uang sejumlah Rp 150.000,00; jumlah uang yang kumiliki saat ini, masih kurang dari jumlah hutangku. hal itu membuatku takut untuk pulang ke rumah kos-an ku, tapi tetap saja aku langkahkan kaki ke rumah kos ku itu, dengan harapan ibu kos mau berbaik hati, karena aku sudah berusaha keras untuk melunasi uang kos ku setengahnya.
Tak terasa langkahku terhenti, pertanda bahwa aku telah sampai dihalaman kos ku, langkah ini semakin terasa berat untuk melangkah lebih jauh lagi, karena jujur saja, aku masih terpikir dengan perkataan ibu kos tadi siang. Tapi ku coba untuk melangkah, sampai didepan pintu kamar kos ku. Tiba-tiba terdengar suara Ibu kos memanggilku, “Ronii,” panggilnya. Suaranya membuat ku mengeluarkan keringat dingin.
“Roni, kesini kau,” pangilnya untuk yang kedua kali.
Aku pun langsung menemui ibu kos, dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengalir. “Maaf bu, saya baru bisa bayar setengah dari hutangnya , tapi saya janji dech, kalau uang-nya sudah ada segera saya lunasi, saya jangan diusir ya bu,” ucapku dengan ketakutan.
“Haa…Haa…Haa, uang apa pula ini, lagian siapa pula yang mau mengusir kau, saya panggil kau kesini buat bilang terima kasih, kau sudah melunasi hutang-hutang kau itu, bahkan kau sudah membayar uang kos sampai 6 bulan kedepan. Sekalian saya mau beri ini buat kau, sebagai tanda terima kasih ku,” ucap ibu kos seraya memberiku sepiring gorengan.
“Makanlah itu, kau pasti capek kan,”lanjutnya.
“Haaaa,” aku pun terbengong mendengar perkataan ibu kos.
“Hei, apa lagi yang kau tunggu, pergilah kau ke kamar,” ucap ibu kos.
“Eh, iya bu.. Terima kasih,” balasku.
“Tapi bu, saya mau tanya, siapa yang bayarin uang kos saya ini ?? karena saya kan baru saja mau membayarnya,” lanjutku.
“Entahlah, saya juga tak tau, tapi tadi sore ada orang datang kesini, orang itu tanya kau itu ada masalah apa hari ini, terus saya jawab kau itu belum bayar uang kos selama 3 bulan, lalu dia mengeluarkan uang, dan dia yang membayarnya sampai 6 bulan ke depan, tampaknya dia itu orang kaya, datangnya saja pakai mobil yang bagus sekali. Sudahlah, buat apa kau pikirkan, yang penting kan kau sudah membayar lunas uang kos kau itu. Saya mau masuk ke dalam rumah dulu,” jawab ibu kos.
“Iya bu, saya permisi dulu,” aku pun pergi meninggalkan rumah ibu kos, dengan wajah heran dan bertanya-tanya. “Kira-kira siapa ya, yang sudah membayar uang kos ku itu??” gumamku dalam hati. “Tapi sepertinya aku tau, siapa yang sudah membayarnya, hanya saja yang aku tidak tau, dia itu tau darimana aku lagi ada masalah ini. Sudahlah besok saja akan ku tanyakan,” aku berbicara sendiri di keheningan malam itu.
---------ooooOoooo---------
Fajar pun menyingsing pagi. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju sekolah dengan rasa penasaran yang masih mengganggu pikiranku. Sesampai disekolah ku langsung mencari Rio, karena ku tau, pasti dia lah yang sudah membantuku melunasi uang kos ku itu. Aku pun bertanya pada teman-temanku, “hei, Rio udah datang belum ??” tanyaku.
“Eh, kamu belom tau ya ??” jawab temanku.
“Tau apaan ??” balasku.
Lalu, datanglah seorang teman menemuiku, “Ron, maaf aku telat bilang sama kamu, semalem Rio tu kecelakaan. Sekarang dia lagi ada dirumah sakit,” ucap temanku
“Iya bener, kemaren tu mobil dia ditabrak sama mobil truk, katanya sich kemaren tu keadaannya parah banget,” sambung temanku yang lain.
“Apaa ??” ucapku serasa tak percaya.
Aku pun langsung berlari keluar meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah, dan langsung pergi ke rumah sakit tempat Roni dirawat. Kekhawatiran ku memuncak, ketika aku tau ia masih dirawat di UGD. Aku pun langsung menuju ruang UGD dimana Rio dirawat, disana aku melihat orang tuanya sedang menangis, dan aku langsung menemui Mamanya Rio dan bertanya padanya, “Tante, keadan Rio gimana? Dia baik2 aja kan?” tanyaku dengan wajah cemas.
“Rio, keadaanya semakin kritis, dari semalam dia nggak sadarkan diri. Tante, takut kalau harus kehilangan dia,” jawab Mamanya Rio dengan terisak.
“Astaghfirullah… Kenapa bisa begini sich ??” aku pun semakin khawatir dengan keadaan Rio.
Aku menunggu dengan cemas diruang tunggu UGD itu. Tak lama kemudian, dokter yang menangani Rio pun keluar. Dengan wajah cemas Mamanya Rio bertanya pada dokter itu. “Dok, bagaimana keadaan anak saya ?? Dia baik-baik saja kan ??”
“Maaf bu, kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi takdir menentukan lain, anak ibu tidak tertolong lagi,” jawab dokter itu.
“Tidaaaaakkkk…… Riiiooooo…. anakku….” jerit mamanya Rio sambil masuk ke ruang UGD dan memeluk tubuh Rio yang sudah terbaring tak bernyawa.
Tubuhku terasa lemas, mendengar kabar dari dokter itu, aku tak percaya Rio akan meninggalkanku secepat itu. Padahal aku belum sempat berterima kasih padanya, karena dia sudah membantuku melunasi uang kosku. Tak terasa air mataku menetes, aku tidak rela sahabat sebaik dia meninggalkanku secepat itu.
“Rioooo, jangan tinggalin Mama……” jerit tangis Mamanya Rio memecah keheningan rumah sakit disiang itu.
---------ooooOoooo---------
Sore itu, pemakaman Rio dilangsungkan. Terasa sekali suasana duka sore itu, banyak yang tidak menyangka dan menyayangkan kejadian tersebut, banyak juga orang-orang yang masih sulit untuk menerima kenyataan itu, termasuk aku karena Rio merupakan sosok orang yang baik hati, suka menolong dan mudah bergaul.
Liang lahat telah digali, dan tubuh Rio pun akan dimasukan ke dalam lubang itu. Isak tangis dari keluarga dan teman-teman Rio membahana, menambah suasana duka dihatiku. Ingin ku menangis dan mencoba untuk menghentikan prosesi pemakaman itu, karena ku masih ingin melihat wajah temanku itu, tapi semuanya kurasa percuma, karena hal itu takkan membuat Rio bisa hidup kembali. Tubuh Rio pun telah diletakkan di pembaringan terakhirnya, dan liangnya telah ditutup kembali oleh tanah.
“Rio, terima kasih kau telah mau menjadi sahabatku selama ini. Semoga kau tenang di alam sana, do’a ku selalu menyertaimu,” ucapku.
Para pelayat pun satu persatu pulang. Tinggal aku dan orangtua Rio yang masih ingin disitu untuk melihat makam Rio. Isak tangis Mamanya Rio masih belum berhenti, padahal Papanya Rio sudah mencoba menenangkannya.
“Tante, yang sabar ya.. Rio pasti sudah tenang di alam sana, Rio juga pasti nggak suka kalau liat Tante nangis terus, dihapus ya air mata tante, ” ucapku seraya memberikan tissu ke Mamanya Rio.
“Terimakasih ya Ron, Rio pasti bahagia punya sahabat seperti kamu,” balas Mamanya Rio.
“Eh, tunggu dulu nak Roni, kemarin Tante nemuin surat dan handphone dikantong jaket Rio yang dipakai waktu dia mengalami kecelakaan itu. Surat dan Handphone ini buat kamu, maaf kalau sebelumnya, tante sudah membaca isi surat itu,” lanjut Mamanya Rio seraya memberikan surat dan handphone itu.
Aku terkejut, karena Handphone itu adalah milikku yang kemarin sudah kujual. Kubuka amplop itu, dan ku baca isinya.
“Hei Ron, kamu pasti kaget dan bertanya-tanya waktu tau uang kos mu itu sudah lunas kan ?? Kenapa sich, kamu nggak mau bilang sama aku, waktu kamu lagi kesusahan?? Kamu kan nggak perlu sampai menjual handphone mu itu. Kamu pasti bingung kan, kenapa aku bisa tau, niy aku ceritain ya, kemarin tu aku telpon ke HP kamu, tapi yang angkat malah orang lain, orang itu bilang, kalau HP kamu itu udah dijual. Lalu aku pergi ke tempet jual HP itu, trus aku tanya sama yang jual, katanya kamu benar-benar lagi butuh uang. Tapi, karena ku pikir kamu pasti masih membutuhkan HP itu, jadinya HP kamu itu kubeli lagi.”
Ku genggam Handphone itu dengan kuat.
Ku lanjutkan membaca surat itu. “Trus aku datangin ke tempat kos kamu, tapi kata ibu kos, kamu lagi keluar, trus aku tanya sama ibu kos, kamu tu lagi ada masalah apa?? Ibu kos kamu bilang, kalau kamu belum bayar uang kos selama 3 bulan. Jadi, yang buat kamu suntuk seharian nih gara-gara uang kos itu ya?? Karena aku nggak mau liat sahabat ku yang satu niy kehilangan keceriaannya, ya udah aku lunasin aja dech uang kos kamu tuch sampai 6 bulan yang akan datang, biar kamu nggak kesusahan seperti itu lagi.
Sebenernya aku tuch kecewa dan kesal banget sama kamu, karena kamu tuch nggak pernah mau cerita sama aku tentang masalahmu, padahal aku kan udah bilang, selama kamu masih punya sahabat jangan pernah kamu merasa sendiri. Tapi setelah kupikir-pikir, sepertinya kamu tuch takut ya kalau kamu ntar ngerepotin aku. Iya kan ??
Padahal, sebenernya aku tuch nggak pernah ngerasa direpotin, selagi aku masih bisa bantu, pasti aku bantu koq. Sahabat sejati kan selalu ada di saat suka maupun duka. Inget ya, lain kali kalau kamu lagi ada masalah, jangan sungkan minta bantuan sama aku, kalaupun aku nggak ada lagi di dunia niy, kan masih ada orang tuaku, mereka pasti akan selalu siap untuk membantumu. Ingat ya !! (^_^) “
Bibirku gemetar, lidahku terasa kelu, tak terasa air mataku pun menetes. Hanya satu kalimat yang mampu terucap dari mulutku, “Rio maafkan aku karena telah mengecewakanmu dan terima kasih atas segalanya, ku berjanji kan selalu mengenang persahabatan ini sampai kapanpun, semoga Tuhan menerimamu disisi-Nya,” bisikku.
Rio telah memberikan satu pelajaran yang berarti buat ku, bahwa sahabat sejati takkan pernah berpaling dan meninggalkan kita, ketika kita berada dalam kesulitan. Tapi dia akan selalu ada disamping kita, membantu kita untuk menyelesaikan segalanya dan akan selalu berusaha untuk membuat kita tersenyum kembali. Karena senyuman kita lah yang dapat membuat hatinya bahagia. Tangismu adalah tangisnya dan senyumanmu adalah senyumannya.
---------oooo--The End--oooo---------